Sunday, February 10, 2013

Kisah Cinta Nabi Sulaiman & Ratu Saba'


Berawal dari sang ayah, Nabi Daud yang konon sudah memiliki 99 istri. Suatu waktu, beliau jatuh cinta lagi pada istri seorang prajurit. Beberapa saat kemudian, disaat ia memasuki istananya, entah darimana datangnya, 2 orang sedang berseteru.

Nabi Daud bertanya, “Wahai, ada apakah ini? Mengapakah engkau bertengkar dengan saudaramu?”

“Saudara saya ini punya 99 kambing ya nabi, sedangkan aku cuma memiliki 1 kambing saja. Tapi milikku yang satu ini mau diminta pula.”

Nabi Daud menjawab, “Apa yang engkau lakukan sungguh hina. Bukankah engkau sudah memiliki 99 kambing. Mengapa milik saudaramu sendiri yang cuma 1 itu engkau minta pula?”

Salah seorang dari mereka menjawab, “Lalu mengapakah engkau masih mengharap istri orang, nabi? Sementara engkau sudah memiliki 99 istri?”

Tahulah Nabi Daud bahwa mereka adalah malaikat yang diutus Allah. Berhari-hari Nabi Daud tobat, memohon ampun pada Allah. Suatu ketika, karena musibah, suami dari wanita yang dicintai Daud tersebut wafat. Cinta Daud padanya belumlah pupus. Maka setelah tiba waktu yang tepat, Daud meminangnya. Sang wanita bersedia asal dengan beberapa syarat.

Yang pertama, bahwa anak mereka haruslah laki-laki. Yang kedua, anak mereka memiliki kekuasaan di dunia ini yang tidak ada bandingnya baik untuk manusia jaman dulu maupun manusia jaman mendatang. Dan yang ketiga, tidak ada yang mengalahkan kekayaannya baik bagi manusia jaman dulu maupun bagi manusia jaman mendatang.

Setelah memohon berbulan-bulan, barulah kemudian Allah mengabulkan do’a Nabi Daud atas permintaan calon istrinya itu. Begitulah, Nabi Sulaiman kekuasaannya tidak ada yang menandingi. Meliputi manusia, hewan, dan jin. Kekayaannya juga tak ada yang menandingi. Legendanya, istana Sulaiman berlapis berlian dan emas serta batu-batu berharga lainnya.

Alkisah, di dalam dakwahnya, Nabi Sulaiman mendengar bahwa di satu negeri yang bernama Saba’, Hiduplah seorang putri yang cantik jelita, terkenal atas kecerdikannya dan ia adalah ratu pemimpin negeri itu. Konon ibunya adalah Putri Raja Jin dan ayahnya adalah Raja di sebuah negara manusia. Nabi Sulaiman mengirim surat kepada ratu itu.

“Bismillahirrohmanirrohim. Ala ta’lu alaya wa’tuni muslimin.
“Aku Nabi utusan Allah, janganlah engkau menyembah matahari, melainkan sembahlah Allah yang Maha Kaya dan Maha Pencipta. Kekuasaannya meliputi seluruh makhluk.

Sang Ratu Bulqis tidak gegabah dalam menanggapi surat dari Nabi Sulaiman. Ia juga sudah mendengar kekuasaan Nabi Sulaiman meliputi semuanya. Hewan dan jin pun tunduk padanya. Kekayaan kerajaannya mungkin tak ada bandingnya.

Ratu Bulqis memanggil para menterinya, mengajak mereka berunding. “Para menteriku, ada surat dari Raja Sulaiman. Ia tidak memaksa dan tidak mengancam kita. Ia meminta kita menyembah pada Tuhan Allah. Tetapi kita tahu, seandainya kita menolak, segala kemungkinan juga bisa terjadi. Kekuatan perang kerajaan kita tak ada artinya dibanding kekuatan perang kerajaan Sulaiman. Kekuasaan kita tak ada artinya dibandingkan dengan kekuasaan Sulaiman.”

Para menteri saling mengeluarkan pendapat mereka. Dari sisi sosial mereka sampaikan, dari sisi budaya mereka sampaikan, dari sisi militer mereka sampaikan, dari sisi keyakinan mereka sampaikan, dari sisi politik mereka sampaikan, dari sisi ekonomi mereka sampaikan, dan akhirnya Ratu Bulqis sendiri menyampaikan pendapatnya.

Dari sisi kebenaran, “Begini, akan kita lihat. Akan kukirimkan harta yang berlimpah-limpah kepada Raja Sulaiman. Kalau dia memang seorang utusan Tuhan, dia tidak akan mau menerimanya. Kalau dia seorang raja biasa, tentulah kiriman harta kita akan dianggap upeti dan akan diterimanya. Tidak itu saja, kita akan uji. Pembawa kekayaan yang berlimpah itu akan kita iringi dengan beberapa wanita dan pemuda yang cara pakaian mereka cara berjalan mereka dan semuanya kita didik, tetapi kita ubah. Yang laki-laki berpakaian wanita, yang wanita berpakaian laki-laki. Kalau dia memang seorang Nabi, tentulah tahu mana yang laki-laki sebenarnya dan mana yang bukan.

Kalau memang Raja Sulaiman itu seorang Nabi, maka sungguh celaka kalau kita tidak mau mengikutinya. Tapi kalau ia seorang raja biasa, akan kita perangi.

Para menteri semua setuju dan sepakat. Begitulah dikirimnya serombongan orang laki-laki dan perempuan dan disertai harta kekayaan yang berlimpah-limpah dinaikkan ke baghal (sejenis keledai).

Sampai dihadapan Sulaiman, surat dari ratu Bulqis dibacanya : “Yang mulia Raja Sulaiman, ini adalah separuh kekayaan Bulqis, mohon diterima. Dan yang kedua, kami ingin bertanya, dari kumpulan orang-orang yang membawa harta kekayaan ini, manakah yang laki-laki dan manakah yang perempuan?”

Nabi Sulaiman menggerakkan tangannya mengisyaratkan pada prajuritnya agar mengembalikan harta kekayaan kiriman dari kerajaan Bulqis. Dan yang kedua, dimintanya dua golongan laki dan perempuan itu untuk mencuci muka mereka.

Inilah yang terlewatkan oleh Ratu Bulqis. Cara menyiram air ke muka antara wanita dan laki-laki berbeda. Nabi Sulaiman tersenyum dan kemudian menulis surat lagi. “Bismillahirrohmanirrohim, aku adalah Nabi Allah. Allah Maha Kaya dan telah mencukupiku dengan harta kekayaan yang berlebih. Biarlah harta kekayaan kiriman sang Ratu untuk kesejahteraan penduduk kerajaan sang Ratu. Dan diantara dua golongan yang membawa harta kekayaan ini, yang laki-laki sesungguhnya adalah orang-orang yang memakai baju perempuan dan yang perempuan sesungguhya adalah yang memakai baju laki-laki.

Kemudian dalam surat yang terpisah, Nabi Sulaiman menulis undangan untuk sang Ratu agar mau berkunjung ke kerajaan Sulaiman. Setelah rombongan dari kerajaan Saba’ berangkat kembali, Raja Sulaiman mengumpulkan seluruh bala tentaranya dari pihak hewan maupun dari pihak jin dan manusia. Salah seorang jin sempat memberikan info bahwa Ratu Bulqis memiliki cacat yaitu betisnya seperti betis onta.

Nabi Sulaiman tidak berkomentar, kemudian berkata, “Wahai para pegawai kerajaan, aku berkeinginan mengundang Ratu Bulqis ke sini. Siapakah yang sanggup membawakan singgasananya ke sini dalam waktu yang cepat?”

Jin Ifrit yang memiliki kesaktian level tertinggi di dunia perjin-an. Rajanya jin berkata, “Ya Nabi Allah, hamba sanggup mendatangkan singgasana sang Ratu bahkan sebelum Engkau beranjak dari singgasana ini. Seorang ahli kitab berkata, ”Aku sanggup membawa sekarang, bahkan sebelum engkau berkedip.

Demikianlah, sekejap kemudian singgasana sang Ratu sudah berpindah ke kerajaan Sulaiman. Singgasana tersebut diberi warna sedikit berbeda. Kemudian diletakkan disuatu tempat yang jalan menuju singgasana itu dilapisi kaca yang dibawahnya diberi air. Sekilas, seolah genangan air.

Beberapa waktu berlalu, sang Ratu Bulqis yang sudah takluk pada kebenaran, sampai di kerajaan Sulaiman. Nabi Sulaiman bertanya, “Tahukah engkau singgasana itu?”, kata Nabi Sulaiman sambil menunjukkan tangan ke singgasana di depan mereka. “Sepertinya”, jawab sang Ratu.

Tampaklah kecerdikan, kewaspadaan, dan ketidaksembronoan sang Ratu. Ia tidak menjawab “tidak” sebab ia merasa itu seperti singgasana miliknya, tetapi ia juga tidak menjawab “ia” sebab ada sedikit perbedaan dengan singgasana miliknya, yaitu warnanya. Kemudian Nabi Sulaiman mengajaknya berjalan menuju singgasana itu.

Ketika lewat di atas kaca yang seperti tampak genangan air, spontan sang ratu mengangkat sedikit kain bajunya yang dibawah, dan tampaklah betisnya yang indah dan sempurna. Tidak seperti yang diberitakan oleh jin sebelumnya.

Demikianlah, Nabi Sulaiman timbul kekaguman pada sang Ratu dan tumbuhlah rasa cinta, demikian pula dengan sang Ratu yang memang sudah takluk pada sang Nabi. Beberapa waktu setelah persiapan, Nabi Sulaiman dan sang Ratu Bulqis dari kerajaan Saba’ melangsungkan pernikahannya.


Sumber : tidak diketahui

No comments:

Post a Comment